Halaman

Minggu, 27 Agustus 2017

Cara Memilih Daging Sapi yang Sehat

Dari artikel Sering makan daging? ini bahayanya...  sebelumnya mengenai daging sapi selain memiliki berbagai manfaat, namun ternyata mengkonsumsi daging sapi juga dapat menimbulkan beberapa efek samping yang membahayakan bagi tubuh. Terutama apabila daging tersebut berasal dari hewan ternak yang dipelihara secara komersial. Untuk itu, sebaiknya kita lebih bijaksana dalam menyikapi serta memilih jenis daging sapi yang aman dan sehat untuk dikonsumsi. Bagi anda yang tidak sering memasak mungkin akan kesulitan dalam membedakan mana daging yang bagus dan daging dengan kualitas buruk. Namun berikut beberapa cara yang bisa digunakan untuk memilih daging yang segar. Berikut ini ciri-ciri dari daging sapi yang sehat dan layak untuk dikonsumsi, antara lain adalah :

Warna
Pilihlah daging yang masih berwarna merah, cerah dan mengkilap dan tidak kotor. Jangan memilih daging dengan warna yang sudah pucat, tidak merah lagi, karena bisa dipastikan daging tersebut sudah lama dan tidak layak dikonsumsi lagi.

Tekstur

Tekstur daging dengan kualitas baik adalah memiliki struktur yang tidak lembek, kenyal dan elastis. Untuk membuktikannya, tekanlah sdikit bagian daging untuk mengetahui teksturnya. Jika daging kembali kepada bentuk semula setelah ditekan, berarti daging tersebut maasih segar.

Bau

Daging yang segar tentu memiliki bau dan aroma yang khas yaitu gurih dan masih segar seperti bau daging dan tidak berbau asam.

Tidak ada cairan

Pilihlah daging yang tidak lengket. Ketika sedang memilih daging di pasar, kita pasti melihat ada cairan merah seperti darah yang keluar dari daging. Cairan tersebut sesungguhnya bukan darah, melainkan saripati dari daging tersebut. Hindari membeli daging yang sudah dibungkus plastik yang menampakkan cairan tersebut,  jika saripati tersebut terlalu banyak yang keluar, daging jadi tidak ada rasanya dan tidak enak.

Jangan Membeli Daging Beku

Sesungguhnya membekukan daging bertujuan untuk mempertahankan keawetan daging. Namun menyebabkan daging tersebut kehilangan kesegarannya. Usahakan untuk mebeli daging segar dan langsung mengolahnya. Jika anda terpaksa membeli daging beku, pilihlah daging yang tidak ada bunga esnya, karena kemungkinan besar bunga es juga ada di dalam daging tersebut. inilah tanda daging tersebut sudah tidak segar. Daging ini telah melalui tahapan pengawetan yang terlalu panjang, dimulai dari pembekuan, pendinginan, dan pembekuan kembali.

Nah semoga tips diatas dapat membantu kita dalam memilih daging yang baik dan sehat



sering makan daging? ini bahayanya....

Tau gak sis... kebanyakan daging sapi yang dijual dipasaran merupakan daging yang dihasilkan dari sapi-sapi yang dibesarkan secara komesial di peternakan. Dimana sebuah studi menyatakan bahwa daging sapi yang dihasilkan dari sapi-sapi ternak yang diberi makan biji-bijian memiliki kandungan asam lemak omega 3 yang sangat sedikit serta memiliki kadar asam lemak omega 6 dalam jumlah yang lebih tinggi daripada sapi-sapi yang hidup liar dengan memakan rumput. Nah lo... disamping itu, penambahan berbagai jenis hormon seperti estradiol, progesteron, dll biasanya diberikan pada hewan-hewan ternak guna menambah berat badan  serta meningkatkan efisiensi pakan juga sangat berpengaruh bagi kesehatan, yaitu dapat meningkatkan resiko kanker. Hal-hal seperti inilah yang sebenarnya menyebabkan dampak bahaya daging sapi bagi kesehatan tubuh, seperti berikut ini :
Peradangan
Daging sapi merupakan salah satu jenis makanan yang sangat sulit untuk dicerna oleh tubuh, meskipun telah dimasak. Hal ini akan menimbulkan peningkatan jumlah enzim pencernaan untuk dapat mencerna makanan tersebut. 


Jika makanan ini seing dikonsumsi pada usia dini, hal tersebut dapat mempertahankan asam lemak omega 6 dalam tubuh yang memberikan kontribusi untuk kondisi peradangan dan rasa sakit. Peradangan ini pada akhirnya akan menyebabkan penyakit lain seperti amandel, nyeri sendi dan lutut serta penyakit bisul.

Kanker

Dalam daging sapi terkandung sejumlah bahan kimia organik yang sangat beracun yang dikenal dengan nama dioxin. Dimana bahan kimia tersebut berasal dari partikel mikroskopis dari abu dari insinerator yang telah menetap di rumput dan tanaman yang dimakan oleh hewan-hewan ternak seperti sapi, babi, dan ayam. Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa dioxin merupakan hormon kimia yang dapat mengganggu fungsi sel-sel dalam tubuh, sehingga hal ini dapat berpotensi untuk meningkatkan resiko penyakit kanker. Selain itu, dioxin juga dapat memicu endometriosis, gangguan Attention Deficit Disorder, kecacatan sistem reproduksi anak-anak, sindrom kelelahan kronis, menurunnya sistem kekebalan tubuh, serta gangguan saraf.

Selain zat dioxin, biasanya daging sapi yang berasal dari peternakan telah mengalami proses penyinaran dengan menggunakan sinar gamma yang dihasilkan oleh radioaktif, kobalt 60, maupun aliran listrik dengan tujuan untuk membunuh bakteri yang tinggal dalam daging tersebut. Radiasi tersebut pada akhirnya akan menghasilkan radiolytic dalam produk makanan yang dihasilkan dari olahan daging tersebut, dimana hal itu memiliki sifat karsiogenik (penyebab kanker). Untuk itu sangat disarankan untuk menghindari produk makanan atau daging radiasi. 

Keracunan
Daging sapi merupakan sumber dari adanya jenis kuman mematikan yang disebut E. Colli yang dapat menyebabkan terjadinya keracunan makanan yang cukup serius. Kuman-kuman tersebut terdapat dalam daging sapi yang telah terkontaminasi dengan kotoran sapi pada saat dilakukan penyembelihan. 


Akibat dari kuman berbahaya ini telah menewaskan puluhan orang serta menyebabkan ribuan orang sakit setelah mengkonsumsinya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penarikan sekitar 25 juta pon daging sapi di pasaran pada tahun 1997.

Penyakit jantung


Seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa daging sapi yang diperoleh dari peternakan komersial biasanya mengandung lebih sedikit jumlah asam lemak omega 3. Padahal asam omega 3 inilah yang dapat berfungsi untuk mencegah terjadinya penyakit jantung, namun mengandung lebih tinggi kadar asam lemak omega 6 (kaskade arakidonat) yang justru dapat mempromosikan atau meningkatkan resiko penyakit jantung.

Resistensi obat-obatan
Biasanya hewan-hewan di peternakan akan diberikan tambahan obat-obatan atau jenis antibiotik pada makanan mereka. Hal ini bertujuan untuk menambah berat badan serta untuk mencegah terjangkitnya wabah penyakit menular pada hewan-hewan ternak tersebut. efek samping antibiotik atau obat-obatan yang diberikan secara rutin pada hewan ternak seperti sapi dapat berkontribusi pada masalah resistensi obat-obatan atau antibiotik pada manusia yang mengkonsumsi daging tersebut.

Penyakit Creutzfeldt-Jakob (CJD)
Tahukah anda bahwa gangguan atau penyakit yang terdapat pada hewan ternak seperti sapi yaitu sapi gila yang akhir-akhir ini berkembang juga dapat menular pada manusia?  Ya hal ini bisa terjadi pada saat manusia mengkonsumsi daging sapi yang terinfeksi penyakit ini. Penyakit sapi gila ini biasanya menimpa pada orang-orang yang telah berusia sekitar 60 tahunan baik itu pria maupun wanita. Namun akhir-akhir ini penyakit tersebut juga telah berkembang pada orang-orang yang lebih muda. CJD merupakan suatu penyakit yang menyerang otak yang nantinya dapat mengarah ke demensia, maupun gejala otak lainnya yang lebih mengerikan. Hal ini juga dapat menjadi penyebab kematian mendadak di usia dini.

Terjadinya pemanasan global
Selain dampak pada kesehatan, produksi daging sapi pada akhirnya juga dapat berkontribusi terhadap terjadinya kerusakan lingkungan yang cukup parah. Hal ini terjadi karena para pengusaha peternakan yang melakukan deforestasi yang menyebabkan penggundulan hutan-hutan lindung demi memperluas usaha mereka. Hal ini akan menimbulkan dampak yang cukup signifikan bagi lingkungan, yaitu terjadinya pemanasan global.

Nah sekarang kita semua sudah pada tau akibat yang bisa ditimbulkan karena mengkonsumsi daging sapi,  Semoga setelah ini kita bisa lebih berhati hati dan bijak dalam memilih makanan yang kita konsumsi. Sebagai alternatif supaya tetap sehat agan sista dapat membaca artikel Daging analog adalah...

Daging analog adalah....

Harga daging terutama jenis daging sapi yang terus naik membuat masyarakat harus berpikir kreatif untuk menemukan alternatif pengganti lauk pauk.  Salah satunya dengan melakukan subtitusi bahan baku makanan yang setara dengan kandungan nutrisi daging sapi. Pemilihan alternativ pengganti ini juga tetap memperhatikan kadar gizi pada daging mengingat daging adalah produk hewani kaya protein. Hal ini dilakukan mengingat manfaat protein bagi tubuh


Hal inilah yang dilakukan lima mahasiswa Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP), Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta), Institut Pertanian Bogor (IPB). Kelima mahasiswa yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian (PKMP) yaitu Ade Riyan S, Lisa, Sarah Tsaqqofa, Angela Ottolen Julita, dan Efratia.
Kelima mahasiswa tersebut melakukan penelitian mengenai daging tiruan yang biasa disebut meat analog  dari  sumber protein nabati yakni tepung kecambah kacang komak (Lablab Purpureus L (Sweet)). 


Tidak hanya ibu rumah tangga, pemanfaatan protein nabati ternyata juga banyak diterapkan pihak industri untuk menyiasati mahalnya harga daging. Mereka mencari alternatif dengan menggunakan sumber protein nabati untuk mengganti sebagian atau seluruh protein daging. Disamping itu, perkembangan produk daging tiruan cukuplah pesat di pasaran internasional. Hal ini disebabkan karena adanya kelebihan yang didapat dari daging tiruan yakni harganya yang relatif lebih murah dan ketersediaannya terjamin, serta memberikan keuntungan dari sisi gizi.


Bahan yang banyak digunakan dalam pembuatan daging tiruan adalah campuran dari tepung kedelai dan gluten terigu. Namun tingginya harga kedelai di Indonesia, mendorong peneliti mencari alternatif sumber protein nabati lain. Kacang komak merupakan sumber protein alternatif pengganti kacang kedelai dimana kacang komak ini berpotensi menggantikan pembuatan produk pangan berbasis kacang kedelai, yaitu tempe, tauco, kecap, tepung komposit, makanan bayi, dan konsentrat. 
Produk sehat namun tidak mahal ini bermanfaat juga buat para pedagang atau produsen bakso, pengaplikasian daging analog ini pada produk bakso dengan mensubtitusi daging sapi menunjukkan subtitusi yang optimal adalah berkisar antara 20-30 persen daging analog. "Subtitusi sebesar itu sangat menguntungkan produsen bakso karena produk daging analog dapat mengikat air hingga dua kali lipat sehingga mengurangi biaya produksi akibat mahalnya daging di pasaran," tandasnya.